Tuesday, July 11, 2017

Studi Kasus Bangunan Konservasi

Bangunan Konservasi Golongan A

NamaBangunan Baru             : Bank Tabungan Negara Harmoni
Nama Bangunan Lama          : Postpaarbank
Alamat                                     : Jln Gajah Mada No. 1 Kel. Petojo Utara
Wilayah                                   : Kec. Gambir, Jakarta Pusat (Jakarta 10130)
Arsitektur                                 : Gaya Nieuwe Kunst.
Arsitek                                     : Ir. J. van Gendt.
Pemilik                                    : PT. Bank Tabungan Negara
 
Keterangan Ringkas :
Dibangun pada tahun 1930, diatas bekas lokasi Pos Keamanan “Rijswijk”, sekarang dipergunakan sebagai Gedung Bank Tabungan Negara (BTN), kelompok gedung ini sebagian sudah dibongkar dan yang dipertahankan hanya bagian depannya, digunakan sebagai museum BTN. Bagian bangunan yang menjadi bangunan cagar budaya adalah gedung yang lama (Museum BTN).
Nama Bangunan Baru            : Gereja Koinonia
Nama Bangunan Lama          : Gereja Bethel / De Betelkerk
Alamat                                     : Jl. Matraman Raya 126 Kel. Balimester Kecamatan
  Jatinegara Jakarta Timur (Jakarta 13310)
Pemilik                                    : Yayasan Gereja Koinonia
Arsitektur                                 : Historik Belanda Modern
 
Keterangan Ringkas :
Dibangun pada tahun 1911-1916. Koinonia berarti “Persekutuan” (bahasa Ibrani). Kompleks gereja yang berada di ujung Jalan Matraman ini merupakan gereja pertama di Kawasan Timur Batavia, saat Meester Cornelis membuka kawasan ini (1881-1918). Gereja ini didirikan setelah seorang mantan Ketua Mahkamah Tinggi Pemerintah Kolonial Belanda marah besar dan merasa tidak setuju dengan khotbah seorang pendeta ultra liberal pada perayaan Paskah awal 1900-an di Gereja Emmanuel yang saat itu masih bernama Willems Kerk. Atap gereja Bethel ini sudah tidak asli lagi, arsitekturnya bergaya vernacular, penerapan gable Belanda dan penerapan salib Yunani pada pediment tympanium. Denah gereja dipengaruhi aturan geometrik. Bentuk segi empatnya dibagi tepat menjadi sembilan bagian, dimana empat sudut terluar berfungsi sebagai ruang tangga, sehingga bagian dalam gereja berbentuk salib simetri. Ruang-ruang tangga dari luar terlihat seperti menara.
Nama Bangunan Baru            : Bank Bukopin
Nama Bangunan Lama          : Instantiewoning KJCPL – Inter Ocean Lines
 Alamat                                    : Jl. Wijaya IX No. 1 Kel. Melawai Kec. Kebayoran Baru
  Jakarta Selatan (Jakarta 12160)
Pemilik                                    :
–          KJCPL Inter Ocean Lines
–          Bank Bukopin
Arsitektur                                 : Villa Modern Tipe Kopel/ Kembar.
Arsitek                                     : KJCPL-Inter Ocean Lines.
 
Keterangan Ringkas :
Dibangun pada tahun 1950-an. Rencana pembangunan Kebayoran Baru seluas 730 ha disetujui dan disahkan oleh pemerintah pada tanggal 21 September 1948 guna mengatasi pertambahan penduduk yang dramatis dari 823,000 pada tahun 1948 menjadi 1,782,000 pada tahun 1952. Kebayoran Baru dimaksudkan sebagai “kota satelit” yang terpisahkan 8 km sebelah Selatan-Barat daya dari pusat kota Jakarta dan dikelilingi sabuk hijau (green belt) yang terdiri dari Kali Grogol di Barat dan Kali Krukut di Timur, serta Kompleks Gelora Bung Karno di Utara, tempat Masjid Agung Al-Azhar dan Departemen Pekerjaan Umum. Sarana lengkap yang tersedia antara lain, Pasar Santa, Pasar Mayestik, STM Penerbangan, serta kuburan Blok P yang sekarang menjadi Kantor Walikotamadya Jakarta Selatan yang baru. Kebayoran Baru memiliki konsistensi hirarki jalan dan pengelompokkan lingkungan hunian yang mengelilingi taman hijau. Dibangun sekitar tahun 1950an oleh kontraktor NEDAM sebagai runah tinggal bagi karyawan KJCPL-Inter Ocean Lines. Bangunan ini sekarang berubah fungsi sebagian menjadi Bank BUKOPIN, sebagian lagi menjadi optic dan Bank Permata.Gayaarsitektur rumah-rumah di kawasan ini merupakan ciri khasgayaarsitektur modern yang menggunakan teknologi dan bahan bangunan yang baru pada masa itu. Rumah-rumah tersebut dibuat sangat memperhatikan sistem pengudaraan, dengan mengaplikasikan pengetahuan modern tentang ventilasi. Sehingga menambah kenyamanan dalam iklim tropis yang lembab. Bangunan ini sebenarnya merupakan satu kesatuan dengan bangunan lain disebelah kiri dan kanannya. Dibuat sepanjang blok dimana bagian yang terletak disudut dibuat dua lantai dengan aksen ruang lengkung pada sudutnya. Sistem pengudaraan dibuat sangat baik dengan penempatan lubang-lubang ventilasi diatas jendela.

Bangunan Konservasi Golongan B

Nama Bangunan Baru            : Makam Ade Irma Nasution
Nama Bangunan Lama          : Makam Ade Irma Nasution
Alamat                                     : Jl. Prapanca kel Pulo Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan
 Pemilik                                   : Keluarga Alm Jendral A.H. Nasution
 Arsitektur                                : Bangunan MakamIndonesia
 
Keterangan Ringkas :
Bangunan makam ini menjadi simbol sejarah penghianatan G. 30 S. PKI dimana Ade Irma Suryani Nasution menjadi korban penembakan oleh para penculik yang hendak menculik Jenderal Nasution pada peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI pada tanggal 30 September 1965.
Nama Bangunan Baru            : Makam pangeran Jagakarsa (Jagaraksa)
Nama Bangunan Lama          : Makam Pangeran Jagakarsa (Jagaraksa)
Alamat                                     : Jl. Belimbing Kelurahan Jagakarsa  Kecamatan
  Jagakarsa Jakarta Selatan
Arsitektur                                 : Gaya Indonesia
 
Keterangan Ringkas :
Bangunan makam ini dibangun sekitar abad 17 pada periode transisi inggris merupakan makam tokoh pejuang melawan kompeni dan juga tokoh pendiri kampung jagakarsa makam ini dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan sering diziarahi setiap bulan maulid makam diarea makam ini dipergelarkan wayang kulit Betawi.


NamaBangunan Baru             :CanisiusCollege
Nama Bangunan Lama          : CanisiusCollege HBS
Alamat                                     : Jl Menteng Raya no. 40 – 44 Kel. Kebon Sirih
Wilayah                                   : Kec. Menteng Jakarta Pusat (Jakarta 10340)
Pemilik :
–         CanisiusCollege
–          Yayasan Budi
Arsitektur                                 : Eklektik Romantik dan Modern.
 
Keterangan Ringkas :
Dibangun pada sekitar tahun 1927an. Pada awal abad 20, sudah ada asrama Pastor dari ordo Jesuit dan kapel kecil disini, kemudian berkembang menyelenggarakan pendidikan mulai tahun 1927. Pada masa tersebut, pendidikan pada sekolah ini adalah setingkat HBS.Masa bangunan terdiri dari dua lantai yang dibuat memanjang mengelilingi dua buah ruang terbuka yang terletak pada bagian tengah.Kini bagian depan dari bangunan lama tersebut dibongkar dan digantikan oleh bangunan baru.

Sumber:

Pengertian Konservasi Arsitektur


Pada awalnya konsep konservasi terbatas pada pelestarian bendabenda/monumen bersejarah (biasa disebut preservasi). Namun konsep konservasi tersebut berkembang, sasarannya tidak hanya mencakup monumen, bangunan atau benda bersejarah melainkan pada lingkungan perkotaan yang memiliki nilai sejarah serta kelangkaan yang menjadi dasar bagi suatu tindakan konservasi.

Menurut Sidharta dan Budihardjo (1989), konservasi merupakan suatu upaya untuk melestarikan bangunan atau lingkungan, mengatur penggunaan serta arah perkembangannya sesuai dengan kebutuhan saat ini dan masa mendatang sedemikian rupa sehingga makna kulturalnya akan dapat tetap terpelihara.

Menurut Danisworo (1991), konservasi merupakan upaya memelihara suatu tempat berupa lahan, kawasan, gedung maupun kelompok gedung termasuk lingkungannya. Di samping itu, tempat yang dikonservasi akan menampilkan makna dari sisi sejarah, budaya, tradisi, keindahan, sosial, ekonomi, fungsional, iklim maupun fisik (Danisworo, 1992). Dari aspek proses disain perkotaan (Shirvani, 1985), konservasi harus memproteksi keberadaan lingkungan dan ruang kota yang merupakan tempat bangunan atau kawasan bersejarah dan juga aktivitasnya.

Sedangkan dalam ilmu lingkungan, konservasi adalah :

-        Upaya efisiensi dari penggunaan energi, prosukdi, transmisi atau distribusi yang berakibat pada pengurangan konsumsi energi dilain pihak menyediakan jasa yang sama tingkatny

-        Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam,

-        Pengeloaan terhadap kuantitas tertentu yang stabil sepanjang reaksi kimia atau transformasi fisik,

-         Uapaya suaka dan perlindungan jangka panjang terhadap lingkungan,

-        Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya

Konservasi dengan demikian sebenarnya merupakan pula upaya preservasi namun dengan tetap memanfaatkan kegunaan dari suatu tempat untuk menampung/memberi wadah bagi kegiatan yang sama seperti kegiatan asalnya atau bagi kegiatan yang sama sekali baru sehingga dapat membiayai sendiri kelangsungan eksistensinya. Dengan kata lain konservasi suatu tempat merupakan suatu proses daur ulang dari sumber daya tempat tersebut. Konservasi merupakan suatu upaya yang dapat menghidupkan kembali vitalitas lama yang telah pudar. Termasuk upaya konservasi bangunan kuno dan bersejarah. Peningkatan nilai-nilai estetis dan historis dari sebuah bangunan bersejarah sangat penting untuk menarik kembali minat masyarakat untuk mengunjungi kawasan atau bangunan tersebut. Sebagai bukti sejarah dan peradaban dari masa ke masa.



Jenis-jenis Konservasi

Dalam pelaksanaan konservasi terhadap kawasan/ bangunan cagar budaya, maka ada tindakan-tindakan khusus yang harus dilakukan dalam setiap penanganannya (Burra Charter, 1999), antara lain:

  • Konservasi yaitu semua kegiatan pemeliharaan suatu tempat sedemikian rupa sehingga mempertahankan nilai kulturalnya
  • Preservasi adalah mempertahankan bahan dan tempat dalam kondisi eksisting dan memperlambat pelapukan
  • Restorasi / Rehabilitasi adalah upaya mengembalikan kondisi fisik bangunan seperti sediakala dengan membuang elemen-elemen tambahan serta memasang kembali elemen-elemen orisinil yang telah hilang tanpa menambah bagian baru
  • Rekonstruksi yaitu mengembalikan sebuah tempat pada keadaan semula sebagaimana yang diketahui dengan menggunakan bahan lama maupun bahan baru dan dibedakan dari restorasi
  • Adaptasi / Revitalisasi adalah segala upaya untuk mengubah tempat agar dapat digunakan untuk fungsi yang sesuai
  • Demolisi adalah penghancuran atau perombakan suatu bangunan yang sudah rusak atau membahayakan

Tujuan konservasi

Menurut David Poinsett, Preservation News (July, 1973. p5-7), keberadaan preservasi objek-objek bersejarah biasanya mempunyai tujuan:

-        Pendidikan

Peninggalan objek-objek bersejarah berupa benda-benda tiga dimensi akan memberikan gambaran yang jelas kepada manusia sekarang, tentang masa lalu, tidak hanya secara fisik bahkan suasana dan semangat masa lalu.

-        Rekreasi

Adalah suatu kesenangan tersendiri dalam mengunjungi objek-objek bersejarah karena kita akan mendapat gambaran bagaimana orang-orang terdahulu membentuk lingkungan binaan yang unik dan berbeda dengan kita sekarang.

-        Inspirasi

Patriotisme adalah semangat yang bangkit dan tetap akan berkobar jika kita tetap mempertahankan hubungan kita dengan masa lalu, siapa kita sebenarnya, bagaimana kita terbentuk sebagai suatu bangsa dan apa tujuan mulia pendahulu kita. Preservasi objek bersejarah akan membantu untuk tetap mempertahakan konsep-konsep tersebut.

-        Ekonomi

Pada masa kini objek-objek bersejarah telah bernilai ekonomi dimana usahausaha untuk mempertahan bangunan lama dengan mengganti fungsinya telah menjadi komoditas parawisata dan perdagangan yang mendatangkan keuntungan.



Lingkup Konservasi

1.      Lingkungan Alami (Natural Area)

2.      Kota dan Desa (Town and Village)

3.      Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)

4.      Kawasan (Districts)

5.      Wajah Jalan (Street-scapes)

6.      Bangunan (Buildings)

7.      Benda dan Penggalan (Object and Fragments)



Golongan dalam Konservasi Arsitektur

Berdasarkan Perda No. 9 Tahun 1999 Tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Cagar Budaya, bangunan cagar budaya dari segi arsitektur maupun sejarahnya dibagi dalam 3 (tiga) golongan, yaitu :

  1. Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan A
  2. Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan B
  3. Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan C



Pemugaran Bangunan Cagar Budaya

Golongan A

Bangunan dilarang dibongkar dan atau diubah

Apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya.

Pemeliharaan dan perawatan bangunan harus menggunakan bahan yang sama / sejenis atau memiliki karakter yang sama, dengan mempertahankan detail ornamen bangunan yang telah ada

Dalam upaya revitalisasi dimungkinkan adanya penyesuaian / perubahan fungsi sesuai rencana kota yang berlaku tanpa mengubah bentuk bangunan aslinya

Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama



Pemugaran Bangunan Cagar Budaya

Golongan B

Bangunan dilarang dibongkar secara sengaja, dan apabila kondisi fisik bangunan buruk, roboh, terbakar atau tidak layak tegak dapat dilakukan pembongkaran untuk dibangun kembali sama seperti semula sesuai dengan aslinya

Pemeliharan dan perawatan bangunan harus dilakukan tanpa mengubah pola tampak depan, atap, dan warna, serta dengan mempertahankan detail dan ornamen bangunan yang penting.

Dalam upaya rehabilitasi dan revitalisasi dimungkinkan adanya perubahan tata ruang dalam asalkan tidak mengubah struktur utama bangunan

Di dalam persil atau lahan bangunan cagar budaya dimungkinkan adanya bangunan tambahan yang menjadi satu kesatuan yang utuh dengan bangunan utama



Pemugaran Bangunan Cagar Budaya

Golongan C

Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan pola tampak muka, arsitektur utama dan bentuk atap bangunan

Detail ornamen dan bahan bangunan disesuaikan dengan arsitektur bangunan disekitarnya dalam keserasian lingkungan

Penambahan Bangunan di dalam perpetakan atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya yang harus sesuai dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian lingkungan

Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana Kota


Sumber:


Tuesday, January 31, 2017

KEKUATAN BAMBU PADA STRUKTUR BANGUNAN

Bambu telah lama dikenal sebagai salah satu material konstruksi bangunan, terutama di Indonesia. Namun citra bambu dahulu dikenal sebagai material murah yang cepat rusak. Bahkan Badan Pusat Statistik membuat salah satu kriteria masyarakat miskin adalah jenis lantai/dinding tempat tinggal terbuat dari bambu2. Hal ini yang menyebabkan bambu dianggap material bangunan kelas 3 dan non-permanen.
Beberapa bangunan dengan struktur bambu masih terbilang jarang di Indonesia. Itu saja dikarenakan arsiteknya memang menginginkannya. Ketidak-populeran struktur kayu, ternyata tidak hanya terjadi di dunia praktisi (proyek lapangan). Kalaupun ada, maka umumnya struktur bambu tersebut hanya dijumpai pada pembuatan bangunan non-permanen atau menjadi material konstruksi yang masih bersifat sekunder seperti  perancah, reng, atap, dinding. Kenyataan ini lebih disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat kita mengenai sifat-sifat mekanik dan fisik struktur bambu.

Padahal di luar sana, di Kanada, Swedia, Jepang, Cina, dan Amerika Selatan, konstruksi bambu dan kayu berkembang pesat menuju era yang belum pernah ada di negeri ini. Kita ini sangat tertinggal. Jadi kalau melihat negeri ini, yang struktur bambu kembang kempis, banyak berkembang pada taraf finishing untuk memenuhi kebutuhan arsitek saja. Padahal bambu memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan material lain. Seperti yang tercantum pada tabel perbandingan kuat mekanik beberapa bahan material konstruksi, diambil dari makalah Pak Wiryanto Dewobroto dari Gran Melia.


jika diperhatikan rasio kuat dibanding berat volumenya paling tidak efisien adalah beton, sedangkan kayu mempunyai efisiensi lebih tinggi dibanding baja. Itu menunjukkan pada berat yang sama maka kayu mempunyai kekuatan yang lebih baik. Kayu hanya bisa dikalahkan oleh material bambu. Ini jelas suatu potensi yang tidak dapat diabaikan jika digunakan bambu sebagai material konstruksi. Adapun kelemahan bambu yang relatif kecil dibanding pohon kayu, dapat diatasi dengan dibuatnya laminasi (penggabungan dan penyambungan) balok bambu.
Seiring berkembangnya pengetahuan akan struktur dan material, teknologi seputar bambu juga ikut berkembang seperti munculnya pengetahuan akan joint-joint yang dapat menambah kekuatan bambu. Teknologi pengawetannya pun ikut berkembang, sehingga bambu dapat dijadikan material konstruksi yang lebih kuat dan permanen. Selain itu, Bambu memiliki nilai ekologis yang menjadi nilai tambah. Bambu merupakan material konstruksi yang berkelanjutan, produksi bambu akan mengonsumsi CO2. Jika dibandingkan dengan kayu, menanam bambu hanya membutuhkan waktu 3-6 tahun untuk dapat digunakan sebagai material konstruksi.
Karakteristiknya yang ringan namun berkekuatan tinggi, menjadikan bambu material struktur yang potensial bagi bangunan bentang lebar. Bambu juga memiliki karakter fleksibel (mudah dibentuk) sehingga berpotensi untuk bentuk-bentuk lengkung, dimana bentuk tersebut cukup sulit diwujudkan dengan material konstruksi lain. Hal ini banyak dibuktikan oleh penelitian tentang kekuatan bambu sebagai bahan konstruksi yang telah dilakukan oleh beberapa orang.
Misalnya pada penelitian yang dilakukan oleh Janssen terkait sifat mekanik bambu pada tahun 1974, khususnya yang berkaitan dengan sambungan kuda-kuda untuk keperluan gedung sekolah dan bengkel.  Penelitian ini dilakukan untuk memenuhi permintaan  bantuan suatu Negara berkembang.  Sebagai acuan awal untuk penelitian ini adalah berkas-berkas yang dibuat oleh kerajaan tentara Belanda tahun 1880-an. Berbagai pengujian telah dilakukan oleh Janssen di Laboratorium untuk mengetahui kekuatan bambu terhadap tarik, tekan, lentur dan geser dengan pembebanan jangka panjang dan jangka pendek.  Dalam penelitian ini dipakai bambu dengan spesies  Bambusa blumeana berumur 3 tahun. Dilaporkan dalam hasil penelitian bahwa kekuatan lentur rata-rata adalah sebesar 84 Mpa, modulus elastisitas sebesar 20.000 Mpa. Kekuatan geser rata-rata cukup rendah yaitu 2,25 Mpa pada pembebanan jangka pendek dan 1 Mpa pada pembebanan jangka panjang (6 – 12 bulan).  Dalam laporan juga dinyatakan bahwa kekuatan tarik sejajar serat cukup tinggi, yaitu 200 – 300 Mpa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekuatan bambu sangat dipengaruhi oleh kelembaban bahan.
Atau penelitian oleh Morisco (1994-1999) yang membandingkan kuat tarik bambu Ori dan Petung dengan baja struktur bertegangan leleh 2400 kg/cm2 mewakili baja beton yang banyak terdapat dipasaran, dilaporkan kuat tarik bambu Petung mencapai 3100 kg/cm2.


Selain itu, pada saat ini penggunaan beton bertulang dalam pembangunan perumahan akan semakin meningkat. Kenaikan kebutuhan tulangan baja akan memicu kenaikan harga sehingga menjadi mahal dan langka. Persediaan bahan dasar pembuatan baja (bijih besi) juga semakin terbatas dan tidak mungkin diupayakan peningkatan produksinya karena termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Bambu dapat dipilih sebagai alternatif pengganti karena merupakan hasil alam yang murah, mudah ditanam, pertumbuhan cepat, dapat mereduksi efek global warming serta memiliki kuat tarik sangat tinggi pada sisi kulit. Karena itu penting bagi kita, terutama para praktisi dan akademisi di bidang arsitektur untuk saling belajar sifat-sifat mekanik dan pengolahan struktur terutama bambu.

Tuesday, May 31, 2016

HASIL AMATAN KLA 2016

Desain Fasad Bangunan Jong Ro Tower

Bangunan desain RVA ini berbentuk segitiga yang berorientasi menuju pusat kota dengan memebentuk facade memanjang seperti kurva. Tangga dan lift core di sudut-sudut merupakan sistem sirkulasi bangunam. Desain bangunan ini berpusat pada tiga kebutuhan utama.

Memiliki desain menara yang khas, terdiri dari facade balok baja ekspose dari kisi-kisi aluminium dalam skala besar, serta kaca strukturan sebagai sistem dinding tirai yang inovatif. Teknik baja bezel digunakan untuk menggabungkan lembaran kaca sehungga facade terlihat transparan yang seluruh badannya dibungkus oleh kaca ertikal dan diperkuat dengan frame mengkilat yang terbuat dari stainless steel.

Sisi-sisi bangunan sebagian besar terdiri dari kaca dengan penggunaan struktur utama curtain wall. curtain wall digunakan untuk memaksimalkan sistem pencahayaan dan transparasi vsual. Sistem yang digunakan dalam pemasangan kaca adalah sistem DPG (Dot Point Glazing). 

KONSEP PEMBUATAN VIDEO KULIAH LAPANGAN ARSITEKTUR

PEMBUKA

Pada bagian ini ditampilkan beberapa view dan video yang menunjukkan gambaran akan hal-hal umum dan budaya dari Seoul sebagai ibu kota Korea Selatan. View tersebut terdiri dari sejarah, budaya dan lingkungan sekitar, serta hal-hal umum lain yang diketahui tentang Seoul.


ISI

Jong Ro Tower
pada malam hari
Pada bagian awal isi, menampilkan sekilas fisik bangunan amatan, yaitu Samsung Jong ro tower. Dilanjutkan dengan menampilkan video lingkungan sekitar Jong Ro Tower dan batas-batas area serta kawasan-kawasan yang ada di sekitar bangunan tersebut.

Setelah itu dilanjutkan dengan menunjukkan berbagai akses yang tersedia untuk mencapai bangunan tersebut, mulai dari kondisi jalan lalu lintas hingga jalur-jalur kendaraan yang ada di sekitar bangunan yang biasa digunakan oleh orang-orang setempat. dalam bagian ini ditunjukkan pula berbagai aktivitas yang ada di lingkungan Jong ro tower.



lalu lintas di sekitar Jong Ro Tower
Berikutnya, video yang diambil terfokus pada satu titik bentuk bangunan yang disertai penggambaran umum mengenai bangunan tersebut, seperti data-data perancang, jumlah lantai dan fungsi-fungsi ruang yang ada di dalam bangunan. Pada bagian ini terdapat penekanan pada bagian-bagian bangunan yang unik, baik dari segi fungsi maupun fisik bangunan yang disertai dengan detail-detail nya seperti material dan struktur yang digunakan

Setelah pembahasan tersebut dilanjutkan dengan pembahasan aktivitas pengguna bangunan serta sirkulasi  yang ada di dalam gedung, mulai dari pembahasan kegiatan hingga sirkulasi yang ada pada bangunan tersebut

PENUTUP

Pada bagian penutup ditampilkan beberapa pendapat tentang jong ro tower. Menunjukkan bagaimana dan apa saja pengaruh yang diberikan dengan keberadaan jong ro tower. Kemudian dilanjutkan dengan  beberapa tampilan video yang menunjukkan akhir dari perjalanan.  Setelah keseluruhan video yang telah disusun dan diedit oleh tim editor, berikutnya ditampilkan tentang tim yang telah berpartisipasi, behind the scene atau bloopers selama perjalanan dan pengambilan gambar.

Monday, April 11, 2016

Samsung Jong-Ro tower, Seoul.

Nama lain : Samsung Jongro building, Millenium Plaza, Chongro tower
Jenis bangunan : high rise building
Style/ langgam : structural expressionist/ constructionist
Arsitek : Rafael Vinoly
Fungsi bangunan : Kantor & komersial
Awards : gold award for architectural design by the Seoul metropolitan city 2002
Tinggi bangunan : 132m

Jumlah lantai : 24

KONSEP DESAIN
Pada tahun 1994, Samsung menghentikan pembangunan tower 20 lantai yang akan dijadikan pusat perbelanjaan vertikal, dan mengadakan sayembara untuk  menyelamatkan fungsi gedung. Menjadi mixed use dengan fungsi bangunan yang memenuhi kebutuhan ruang aktivitas bagi publik seperti cultural, pendidikan dan retail. Sehingga dalam desainnya, Rafael Vinoly mengaplikasikan fasilitas publik yang mudah diakses dalam bangunan tinggi, memperluas fungsi bangunan sebagai wadah aktivitas yang lebih fleksibel. Dirancang untuk menghilangkan kesan bangunan tinggi hanya dapat digunakan bagi orang-orang dengan kelas tertentu.
Bentuk bangunannya mengikuti bentuk triangular pada site, berorientasi ke arah pusat kota. 


ruang-ruang kantor ditempatkan cukup dekat dengan fasad kaca bangunan sehingga dapat memaksimalkan masuknya cahaya matahari dan memberi cakupan view yang lebih luas



FASAD EKSTERIOR
Penggunaan curtain wall dan steel bezel sebagai frame fasad transparan yang digunakan untuk memaksimalkan masuknya cahaya ke dalam bangunan dan memperkecil ukuran rangka baja struktur



Sumber:




Sunday, December 20, 2015

Soal Hukum dan Pranata Pembangunan

     1. Pranata pembangunan terdiri dari suatu sistem dan organisasi. Jelaskan masing2!

Pranata pembangunan sebagai sebuah sistem
sekumpulan aktor/stakeholder dalam kegiatan membangun (pemilik, perencana, pengawas dan pelaksana) yang merupakan satu kesatuan tak terpisahkan dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain serta memiliki batas-batas yang jelas untuk mencapai satu tujuan.
Pranata Pembangunan sebagai suatu organisasi
dapat diartikan sebagi perkumpulan (kelompok) yang memiliki hubungan yang bergantung pada tujuan akhir yang sering dinyatakan dengan kontrak.

     2. Apa hubungan antara owner, konsultan, dan kontraktor? Jelaskan!

Terdapat dua hubungan, yaitu kontraktual dan koordinasi. Hubungan kontraktual merupakan hubungan yang berlaku antara owner dengan konsultan dan antara owner dengan kontraktor. Sedangkan hubungan koordinasi berlaku antara konsultan dengan kontraktor

KONTRAKTUAL merupakan hubungan profesional yang didasarkan atas kesepakatan-kesepakatan dalam suatu kontrak yang menuntut adanya keahlian profesi masing-masing sesuai bidang.
KOORDINASI merupakan tujuan untuk mewujudkan keinginan pengguna jasa, yang secara teknik dapat diukur melalui efisiensi dan efektivitas dari kalitas produk yang dihasilkan.

     3. Berikan contoh bentuk kerjasama antara pelaku pembangunan beserta tugas dan kewajiban masing2
Project Title : SPRINGHILL SWISS-BELINN & OFFICE PROJECT
Location : Jalan Benyamin Suaeb Kemayoran, Jakarta Pusat
Floor Area/Unit : Hotel ± 10.439 m2, Kantor ± 14.375 m2, Total ± 35.996 m2 / 159 kamar
Floor : 

2 lantai Basement,
Hotel 10 lantai (B2, B1, Dasar, 1-10),
Kantor 13 lantai (B2, B1, Dasar, 1-13)
Owner : PT. GRAHA CIPTA PROPERINDO
Construction Management : PT. PROMACO CIPTA BERSAMA
Architectural Consultant : PT. URBANE INDONESIA
Structural Consultant : PT. PENTA REKAYASA]
Mechanical / Electrical Consultant : PT. SIGMATECH TATAKARSA


1. Pemberi Tugas (Owner)
Pihak pihak yang menghendaki suatu pekerjaan dilaksanakan oleh pihak lain sehubungan dengan kepentingannya atas hasil pekerjaan tersebut, atau wakilnya yang ditunjuk dalam Pekerjaan.
2. Manajemen Konstruksi (Construction Management)
Bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas dalam memimpin, mengkoordinir,dan mengawasi pelaksaan pekerjaan di lapangan pada batas-batas yang telah ditentukan baik teknis maupun administratif. Dalam menjalankan tugasnya MK dibantu oleh beberapa orang yang masing-masing mempunyai keahlian dalam disiplin ilmu yang diperlukan proyek.
3. Konsultan Perencana Arsitektur (Architectural Consultant)
Badan/Organisasi yang berada langsung di bawah owner, karena memegang peranan penting untuk perencanaan awal/konsep desain dari segi arsitektur dan estetika ruangan. Tugasnya yaitu:
Membuat gambar/desain dan dimensi bangunan secara lengkap dengan spesifikasi teknis, fasilitas dan penempatannya.
Menentukan spesifikasi bahan bangunan untuk finishing pada bangunan proyek ini.
Membuat gambar-gambar rencana dan syarat-syarat teknis secara administrasi untuk pelaksanaan proyek.
Membuat perencanaan dan gambar-gambar ulang atau revisi bilamana diperlukan.
Bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil perencanaan yang dibuatnya apabila sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. 
4. Konsultan Perencana Struktur (Structural Consultant)
Badan/Organisasi yang bertugas merencanakan dan merancang struktur yang sesuai dengan keinginan pemilik proyek melalui kontraktor utama, baik struktur atas maupun struktur bawah dengan mempertimbangkan beberapa hal, antara lain: kondisi tanah, fungsi bangunan, bentuk bangunan (segi arsitektur), kondisi lahan, serta kondisi alamnya. Tugas & wewenangnya:
Membuat perhitungan seluruh proyek berdasarkan teknis  yang telah ditetapkan sebelumnya.
Membuat rancangan detail yang meliputi pembuatan gambar-gambar detail serta rincian volume pekerjaan.
Memberikan penjelasan atas permasalahan yang timbul selama masa konstruksi.
5. Konsultan Perencana Mekanik & Elektrik (Mechanical / Electrical Consultant)
Badan/Organisasi yang ahli dalam bidang Mechanical dan Electrical.
Merencanakan instalasi yang menggunakan tenaga mesin dan listrik serta berbagai perlengkapan utilitas seperti misalnya AC, perlengkapan penerangan, plumbing, generator, pemadam kebakaran, telepon, dan sound system sesuai dengan keadaan dan fungsi bangunan.
Memberikan penjelasan pada waktu rapat, menyusun dokumen pelaksanaan dan melakukan pengawasan berkala dan melaporkannya pada kontraktor utama.

     4. Sebutkan 4 unsur dari hukum pranata pembangunan dan jelaskan
Hukum Pranata Pembangunan memiki empat unsur, yaitu:
1. Manusia
Unsur pokok dari pembangunan yang paling utama adalah manusia. Karena manusia merupakan sumber daya paling utama dalam menentukan pengembangan pembangunan.
2. SDA
Sumber daya alam merupakan faktor penting dalam pembangunan yang mana sebagai sumber utama dalam pembuatan bahan material untuk proses pembangunan.
3. Modal
Modal faktor penting untuk mengembangkan aspek pembangunan dalam suatu daerah. Apabila semakin banyak modal yang tersedia semakin pesat pembangunan suatu daerah.
4. Teknologi
Teknologi saat ini menjadi faktor utama dalam proses pembangunan. Denga n teknologi dapat mempermudah, mempercepat proses pembangunan.

     5. Undang-undang apa saja yang berhubungan dengan hukum pranata pembangunan, berikan 3 saja dan jelaskan
1. KEPRES 80 tahun 2003
Tentang dua tugas utama pengguna jasa atau pemilik pekerjaan (owner). 
Yaitu tahap persiapan yang terdiri dari:
-Menyusun rencana
-Mengangkat panitia
-Memetapkan paket pekerjaan
-Menentapkan HPS ( harga perkiraan sendiri)
-Rencana pengadaan dan pelaksanaan
Dan tahap pelaksanaan :
-Menetapkan hasil pengadaan
-Menetapkan besar uang muka
-Tanda tangan kontrak
-Mengendalikan pekerjaan
-Menyerahkan asset
2. KEPRES No.18 tahun 2000
Tentang Jasa Konstruksi
3. Undang-undang No.18 Tahun 1999
Jasa Kontruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa konsultansi pengawasan pekerjaan kontruksi.

     6. Kota mana saja yang telah menerapkan RTH 30% dari luas wilayah dan RTH publik 20% dari wilayah kota
Kota Surabaya
RTH di Kota Surabaya sendiri telah mencapai 22,26 persen atau 171,68 hektar dari total luas wilayah kota. Surabaya unggul sebagai kota besar ramah lingkungan dan humanis. Surabaya saat ini mengembangkan penataan yang tersebar ke seluruh penjuru kota. Dengan demikian, warga kotanya bisa beraktivitas di wilayah masing-masing atau dekat dengan tempat tinggalnya. Pembangunan RTH di Surabaya tidak diaglomerasikan ke satu titik, melainkan menyebar dengan mengembangkan sentra komunitas di setiap titk strategis kota.
Di setiap titik strategis seluruh wilayah kota itu dibangun pula taman-taman lengkap dengan akses WiFi, pedestrian, dan jalur sepeda sebagai ruang terbuka hijau di luar ruang rekreasi, lapangan olahraga, dan pemakaman. 
Kota Surabaya juga sadar bahwa peningkatan kualitas lingkungan akan lebih mudah apabila melibatkan peran serta masyarakat. Program-program seperti “Urban Farming”, “Surabaya Green and Clean”, “Surabaya Berwarna Bunga”, dan meningkatkan kembali implementasi 3R (Reuse, Reduce, Recycle) dalam pengelolaan sampah, dilakukan dalam rangka membentuk kota hijau yang sehat.
Itulah sebabnya saat ini Surabaya mendapat predikat sebagai "kota untuk warganya". Tak kalah penting, kota ini juga digelari The Most Green and Livable City in Indonesia.
Menurut Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 07 tahun 2002, tentang pengelolaan ruang terbuka hijau disebutkan bahwa ruang terbuka hijau tak hanya berupa hutan kota, melainkan kawasan hijau yang berfungsi sebagai pertamanan, rekreasi, permakaman, pertanian, jalur hijau, dan pekarangan.
Dalam ruang terbuka hijau diwajibkan adanya kegiatan penghijauan yaitu tentunya dengan budidaya tanaman sehingga terjadi perlindungan terhadap kondisi lahan. Peraturan daerah itu menyebutkan dengan jelas bahwa pengelolaan ruang terbuka hijau menjadi tanggungjawab tak hanya pemerintah, bahkan sektor swasta, dan warga yang bertempat tinggal di Kota Surabaya.

Kota Bandung
Saat ini Kota Bandung baru memiliki sekitar 1700 hektare RTH. Sedangkan idealnya RTH untuk kota yang memiliki luas 16.729,65 hektare ini adalah sekitar 6000 hektare. data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup 2007, ruang terbuka hijau di Kota Bandung kini tersisa 8,76 persen. Padahal idealnya sebuah kota harus memiliki ruang terbuka hijau seluas 30 persen dari total luas kota, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Ruang tebuka hijau di Metropolitan Bandung terdiri dari kawasan lindung dan kawasan
budidaya. Pada kenyataannya ruang terbuka hijau pada kawasan lindung beralih fungsi menjadi
kawasan terbangun, sehingga ruang terbuka hijau yang selama ini berfungsi sebagai resapan air,
tidak lagi dapat menampung limpasan air hujan yang turun ke bumi. Hal ini mengakibatkan
terjadinya banjir di beberapa titik.
Jika Kota Bandung tanpa RTH, sinar matahari yang menyinari itu 90% akan menempel di aspal, genting rumah, dan bangunan lainnya yang ada. sementara sisanya yang 10% akan kembali ke angkasa. Hal itu memicu udara Kota Bandung menjadi panas. Namun, jika bandung memiliki RTH sesuai dengan angka ideal, maka sinar matahari itu 80% diserap oleh pepohonan untuk fotosintesis, 10% kembali ke angkasa, dan 10% nya lagi yang menempel di bangunan, aspal dan lainnya.
Menurut data Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Bandung 2006, akibat berkurangnya persentase ruang terbuka hijau di Bandung, setiap tahun permukaan tanah di Kota Kembang ini menyusut sekitar 42 sentimeter. Di Babakan Siliwangi sendiri permukaan air tanah berada pada kedudukan 14,35 meter dari sebelumnya 22,99 meter. Menurut data yang dilansir Greenlife Society setidaknya 90 pusat perbelanjaan di Bandung itu masih berhutang 85 ribu meter persegi ruang hijau.
Setiap 1000 megawatt yang dihasilkan dari pembangkit listrik bertenaga batubara akan menghasilkan emisi karbon-dioksida 5,6 juta ton/ tahun. Ilustrasi lain, sebuah kendaraan bermotor yang memerlukan bahan bakar 1 liter per 13 km dan tiap hari mememerlukan BBM 10 liter maka akan menghasilkan emisi karbon-dioksida sebanyak 30 kg/hari atau 9 ton/tahun. Bisa dibayangkan jika jumlah kendaraan bermotor di Kota Bandung di jalanan yang sering macet kita asumsikan 500.000 kendaraan, maka dari sektor transportasi Kota Bandung menyumbang emisi karbon-dioksida ke atmosfer sebanyak 4,5 juta ton/ tahun.
Singkatnya, kondisi hutan Kota Bandung benar-benar kritis, jauh dari angka ideal yang dibutuhkan warga kota yang telah mencapai lebih dari 2,3 juta jiwa. Istilah lainnya, wilayah RTH di Kota Bandung ini masih sedikit. Dan saat ini jumlah pohon perlindung sebanyak 229.649 pohon. Padahal, idealnya kata Kepala Dinas Pertamanan Kota Bandung, Drs. Ernawan, jumlahnya 920.000 pohon pelindung atau 40% dari jumlah penduduk. Jumlah tersebut dihitung dengan rumusan 2,3 juta jiwa dikali 0,5 kg oksigen dikali 1 pohon dibagi 1,2 kg, sama dengan 2,3 juta kali 0,4 kg oksigen dikali 1 pohon, menghasilkan 920.000 pohon.

Kota Malang
Hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar, atau bergerombol, dengan struktur menyerupai/meniru hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan sehat, nyaman dan estetis.  Pengertian ini sejalan dengan PP No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota yang menggariskan hutan kota sebagai pusat ekosistim yang dibentuk menyerupai habitat asli dan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dan menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Penempatan areal hutan kota dapat dilakukan di tanah negara atau tanah private yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat berwenang. Sebagai unsur RTH, hutan kota merupakan suatu ekosistim dengan sistim terbuka. Hutan kota diharapkan dapat menyerap hasil negatif akibat aktifitas di perkotaan yang tinggi. Tingginya aktifitas kota disebabkan oleh pertumbuhan penduduk dan industri yang sangat pesat di wilayah perkotaan. Dampak negatif dari aktifitas kota antara lain meningkatnya suhu udara, kebisingan, debu, polutan, kelembaban menurun, dan hilangnya habitat berbagai jenis burung dan satwa lainnya karena hilangnya vegetasi dan RTH (Zoer’aini, 2004; Sumarni, 2006).
Ruang terbuka hijau di kota Malang yang berfungsi sebagai kawasan resapan air hujan perlu dipertahankan luasannya karena akan berperan terhadap pengurangan banjir atau genangan tidak wajar pada musim penghujan dan mempunyai potensi untuk imbuhan air tanah pada musim kemarau.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan ruang terbuka hijau di kota Malang dari tahun 1995 sampai 2005, mengetahui kapasitas infiltrasi dan agihan kapasita infiltrasi serta kontribusi ruang terbuka hijau tersebut untuk imbuhan air tanah di kota Malang.
Jenis penelitian ini adalah survey dengan pengukuran langsung dalam hal ini kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) ruang terbuka hijau di kota Malang. Metode pengambilan sampel pengukuran kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) menggunakan metode purposive sampling yaitu perubahan ruang terbuka hijau di kota Malang. Untuk mengetahui alih fungsi atau perubahan ruang terbuka hijau dan eksisting ruang terbuka hijau digunakan metode overlay peta (tumpang susun) kemudian analisis data untuk mengetahui nilai kapasitas resapan air hujan (infiltrasi) dihitung dengan menggunakan metode Horton yang kemudian dipresentasikan agihannya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan penyusutan ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995 sampai 2005 sebesar 4,6% dari total luas ruang terbuka hijau kota Malang tahun 1995. Kapasitas infiltrasi kota Malang bervariasi, kapasitas infiltrasi tertinggi di Hutan Arjosari Blimbing sebesar 1797,81 cm/hari, sedangkan kapasitas infiltrasi terendah pada Taman Serayu yaitu sebesar 30,64 cm/hari. Tingkat infiltrasi kota Malang termasuk kelas sangat tinggi atau >53 mm/jam, hal ini menunjukkan bahwa kota Malang merupakan daerah resapan air yang sangat baik. Total kontribusi ruang terbuka hijau dengan luas keseluruhan 49277,5 m2 memberikan supplay air tanah sebesar 13594,536 m3/jam.